Minggu, 22 Maret 2015

Kajian terhadap permasalahan dan kebutuhan informasi siswa sekolah



BAB I
PENDAHULUAN

Masyarakat informasi memiliki kebutuhan utama untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan sebagai penunjang berbagai aktivitas keseharian maupun tuntutan-tuntutan yang lain. Kebutuhan akan informasi dirasakan akan terus bertambah bagi seseorang setiap kali ia selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Dan rasa ingin tahu timbul ketika seseorang ingin menambah daftar panjang khasanah pengetahuannya. Menurut Wersig, kebutuhan informasi didorong oleh a problematic situation dimana seseorang merasa harus memperoleh masukan dari sumber-sumber di luar dirinya. Sedang Belkin, menamakan ini sebagai anomalous state of knowledge, seseorang merasa bahwa tingkat pengetahuannya tidak cukup untuk menghadapi situasi tertentu pada saat itu (Pendit, 2003: 126).
Seorang pendidik bukan hanya sekedar menyampaikan materi didalam kelas sesuai dengan kurikulum yang berlaku, namun pendidik mengembang tugas terhadap perkembangan peserta didik, baik perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak semua peserta didik mampu berkembang sesuai dengan fase perkembangannya dengan baik tanpa adanya masalah yang mampu mempengaruhi perkembangannya.
Remaja menghabiskan sepertiga atau lebih waktu terjaga mereka dengan beberapa bentuk media massa, baik sebagai fokus utama atau sebagai latar belakang melakukankegiatan yang lain. Perkiraan lainnya remaja menonton TV berkisar antara 2 sampai 4 jam per hari, dengan variasi yang cukup besar sekitar rata-rata tersebut: Beberapa remaja sedikit atau sama sekali tidak menonton TV; yang lain menonton selama 8 jam sehari.
Hal ini juga sangat mungkin terjadi pada kebutuhan informasi remaja yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini disebabkan secara psikologis, usia remaja berada dalam fase pertengahan diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pencarian jati diri dan tingginya kebutuhan diri untuk diakui menjadi kompleksitas tersendiri. Ditambahkan Jean Piaget bahwa perkembangan kognitif remaja dikatakan sebagaiperiode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (Setiono, www.epsikologi.com).
Menurut Houston & Alvarez, menonton televisi seringkali memuncak di masa akhir kanak-kanak dan mulai menurun pada beberapa titik di awal masa remaja akibat banyaknya media yang bersaing dan tuntutan sekolah serta kegiatan sosial (Santrock, 2003: 316). Remaja juga lebih banyak menggunakan media cetak dibandingkan anak-anak.Membaca koran seringkali dimulai pada usia 11 sampai 12 tahun, dan terus meningkat hingga60 sampai 80 persen remaja akhir membaca setidaknya beberapa koran. Dengan kecenderungan yang sama, membaca buku dan majalah terus meningkat secara bertahapselama masa remaja.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, orang memerlukan informasi. Berdasarkan beberapa pendapat tentang kebutuhan informasi, maka kondisi yang menyebabkan munculnya kebutuhan informasi adalah pada saat seseorang menemui suatu masalah yang belum dapat dicari solusinya secara pribadi, sehingga ia memerlukan informasi dari sumber-sumber di luar dirinya. Menetapkan kebutuhan informasi bagi suatu perpustakaan merupakan fenomena yang rumit, karena perpustakaan melayani komunitas yang terdiri atas individu-individu pemakai yang memiliki kebutuhan yang beragam. Bahkan pemakai sendiri mengalami kesulitan mengungkapkan dan mendefinisikan informasi mereka. Oleh karena itu prosedur pengumpulan data yang komprehensif perlu dilakukan untuk mengetahui kebutuhan informasi oleh suatu kelompok pemakai. Jika dilakukan secara tepat, kajian mengenai kebutuhan pemakai akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:pengembangan apa yang diperlukan agar jasa-jasa yang telah ditawarkan dimanfaatkan secaraefektif, apa yang harus dilakukan agar jasa serta sumber informasi diketahui oleh pemakai, jenis program apakah yang dapat ditawarkan agar jasa yang ada dimanfaatkan (Chaundry,1993). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi adalah pernyataan seseorang atas adanya ketidakcocokan antara tingkat kepastiannya dengan obyek lingkungan yang sedang dihadapinya. Atau dengan kata lain bahwa kebutuhan informasi ini muncul pada saat seseorang mulai menganggap bahwa keadaan pengetahuan yang ia miliki saat itu kurang dari yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Kebutuhan informasi ini menurut Krikelas nantinya akan mendorong adanya perilaku penemuan informasi (information seeking behavior). Proses pencarian informasi akan berakhir apabila kebutuhan yang dirasakan telah terpenuhi (Hayden, 2001: 6).





    BAB II
                          PEMBAHASAN

A.     Kebutuhan Informasi
Di era globalisasi, informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan. Istilah “kebutuhan informasi” didefinisikan oleh Krikelas dengan “pengakuan mengenai adanya ketidakpastian” (1983: 8). Kata “informasi” dikaitkan dengan kata kebutuhan” karena ini menegaskan sebuah kebutuhan dasar yang mirip dengan kebutuhan dasar manusia lainnya, yang oleh para psikolog dibedakan dalam tiga kategori, yaitu kebutuhan fisiologis, afektif, dan kognitif (Rohde, 1986: 53). Menurut Wilson, kebutuhan informasi adalah sebuah pengalaman subyektif yang hanya terjadi pada pikiran orang yang sedang dalam kondisi membutuhkan dan tidak bisa secara langsung diakses oleh para pengamat (1997: 552).  Evans membedakan antara keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs) (1992: 17). Keinginan adalah sesuatu yang ingin dibayar oleh seseorang, baik dengan mencurahkan waktu, usaha, maupun uang. Permintaan adalah satu hal yang politis karena orang mau bergerak untuk mendapatkannya. Kebutuhan adalah masalah yang memerlukan solusi. Kebutuhan informasi menurut Bouzza didefinisikan sebagai pengakuan seseorang atas adanya ketidakpastian dalam dirinya (Krikelas, 1983: 11). Rasa ketidakpastian ini mendorong seseorang untuk mencari informasi. Banyaknya informasi yang beredar saat ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang dikenal sebagai masyarakat informasi, dimana pada masyarakat ini standar hidup, bentuk pekerjaan dan sistem pendidikan dipengaruhi oleh informasi (Martin, 1988). Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan
Kebutuhan Informasi di era globalisasi, informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan. Istilah “kebutuhan informasi” didefinisikan oleh Krikelas dengan “pengakuan mengenai adanya ketidakpastian” (1983: 8). Kata “informasi” dikaitkan dengan kata“kebutuhan” karena ini menegaskan sebuah kebutuhan dasar yang mirip dengan kebutuhan dasar manusia lainnya, yang oleh para psikolog dibedakan dalam tiga kategori, yaitu kebutuhan fisiologis, afektif, dan kognitif (Rohde, 1986: 53). Menurut Wilson, kebutuhan informasi adalah sebuah pengalaman subyektif yang hanya terjadi pada pikiran orang yang sedang dalam kondisi membutuhkan dan tidak bisa secara langsung diakses oleh para pengamat (1997: 552).
 Evans membedakan antara keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs) (1992: 17). Keinginan adalah sesuatu yang ingin dibayar oleh seseorang, baik dengan mencurahkan waktu, usaha, maupun uang. Permintaan adalah satu hal yang politis karena orang mau bergerak untuk mendapatkannya. Kebutuhan adalah masalah yang memerlukan solusi.
Kebutuhan informasi menurut Bouzza didefinisikan sebagai pengakuan seseorang atas adanya ketidakpastian dalam dirinya (Krikelas, 1983: 11). Rasa ketidakpastian ini mendorong seseorang untuk mencari informasi. Banyaknya informasi yang beredar saat ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang dikenal sebagai masyarakat informasi, dimana pada masyarakat ini standar hidup, bentuk pekerjaan dan sistem pendidikan dipengaruhi oleh informasi (Martin, 1988). Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan.



B.  Sumber  Informasi
Menurut Ellis menyatakan bahwa ada suatu proses yang dilalui seseorang untuk mengikutiperkembangan informasi yang mereka butuhkan dengan menjaga perkembangan informasi dalam suatu bidang dengan secara teratur, yang dilakukan dengan mencari sumber-sumber tertentu (misalnya jurnal, surat kabar, konferensi, majalah, buku, dan katalog) (Meho, 2003).
Dalam hal ini dikenal dengan istilah sumber informasi. Menurut Suwanto, sumber informasi merupakan sarana penyimpanan informasi (1997). Informasi dapat tersimpan dalam dokumen dan non-dokumen. Sumber informasi yang berupa dokumen dapat berbentuk buku, majalah,laporan penelitian, jurnal, sedangkan sumber informasi non-dokumen adalah manusia, yakni teman, pustakawan, pakar, atau spesialis informasi. Suatu sumber informasi menurut Murtonen adalah pembawa informasi yang dipercaya dapat memberikan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan informasi (Byström,1999). Brown secara khusus membagi sumber informasi ke dalam tiga tipe yaitu dirinya sendiri, orang lain, dan sumber lain yang bukan manusia (Bystrom, 1999). Dikarenakan dalam mengerjakan tugas tertentu seseorang tidak bisa mendapatkan informasi dari dirinya sendiri, maka mereka berusaha untuk mencari sumber informasi secara interpersonal yaitu melalui bertanya dengan teman, ahli bidang tertentu, dan orang lain. Sedangkan buku, surat kabar, memo, selebaran adalah contoh dari impersonal sources (sumber informasi yang bukan orang).



  
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah Kebutuhan akan informasi dirasakan akan terus bertambah bagi seseorang setiap kali ia selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Dan rasa ingin tahu timbul ketika seseorang ingin menambah daftar panjang khasanah pengetahuannya.
Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan. Munculnya kebutuhan informasi adalah pada saat seseorang menemui suatu masalah yang belum dapat dicari solusinya secara pribadi, sehingga ia memerlukan informasi dari sumber-sumber di luar dirinya.






            BAB IV
             DAFTAR PUSTAKA

Bystrom, Katriina, 1999, Task Complexity, Information Types And Information
          Sources:Examination of Relationships, Tampere: Faculty of Social Sciences
          of the University of Tampere.
Eeva-Liisa, E., 1998, University student’s information seeking behaviour in a
          changing learning environment
, diakses tanggal 1 April 2007, tersedia di
         
www.shef.ac.uk/infres/isic/eeskola.html
Krikelas, James, 1983, Information-Seeking Behaviour: Patterns and Concepts.
          Drexel Lib.Quart., 19(2) Spring.
Meho, L. I. & Tibbo, H. R., 2003, Modelling The Information-Seeking Behaviour
          of Social Scientist: Ellis’s Revisited, Journal of The American Society for
          Information Science and Technology, 54(6) 570-587, diakses tanggal 1 Juli
          2007, tersedia pada http://dlist.sir.arizona.edu/1641/01/meho-tibbo.pdf
Pendit, Putu Laxman, 2003, Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Suatu   
          Pengantar
Diskusi Epistemologi dan Metodologi, Jakarta : JIP-FSUI.
Setiono, Lilly H., Beberapa Permasalahan Remaja, diakses tanggal 23 Januari
         2009,tersedia di www.e-psikologi.com
Wilson, T.D., 1997, Information Behaviour: an interdisciplinary perspective,
              Information Processing & Management 33 (40), diakses tanggal 16
              Maret 2008, tersedia di http://informationr.net/

Konseling Anak Usia Dini



Teori Psikososial tentang Kepribadian

Perkembangan berlangsung melalui delapan tahap menurut Erikson. Tahap yang berurutan itu tidak ditetapkan menurut suatu jadwal kronologis yang ketat. Erikson berpendapat bahwa setiap anak memiliki jadwal waktunya sendiri.
Erikson membagi tahap-tahap itu berdasarkan kualitas dasar ego pada masing-masing tahap yaitu:
1. Kepercayaan Dasar vs. Kecurigaan Dasar
Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik oral dan ditunjukkan oleh bayi lewat kapasitasnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan membuang kotoran dengan santai. Kebiasaan itu berlangsung terus dalam kehidupan bayi dan merupakan dasar paling awal bagi berkembangnya suatu perasaan identitas psikososial. Melalui pengalaman dengan orang dewasa, bayi belajar menggantungkan diri dan percaya pada mereka, tetapi mungkin yang lebih penting, ia mempercayai dirinya sendiri. Kepastias semacam itu harus mengungguli lawan negatif dari kepercayaan dasar yakni, kecurigaan dasar.
Pengharapan merupakan kebajikan paling awal dan paling esensial yang melekat dalam hidup. Fondasi pengharapan pertama terletak pada hubungan dengan orang tua yang memberikan pengalaman-pengalaman seperti ketenangan, makanan dan kehangatan.
Pada saat yang sama, ia mengembangkan kemampuan untuk membuang pengharapan yang dikecewakan dan menemukan pengharapan dalam tujuan dan kemungkinan di masa mendatang.
Menurut Erikson, pengharapan adalah keyakinan yang bersifat menetap akan kemungkinan dicapainya hasrat-hasrat kuat.
Tahap pertama kehidupan ini merupakan tahap ritualisasi numinous yaitu, perasaan bayi akan kehadiran ibu, dalam hal ini pandangannya, pegangannya, sentuhannya, teteknya atau “pengakuan atas dirinya”. Bentuk ritual numinous yang menyimpang dan terungkap dalam kehidupan dewasa berupa pemujaan terhadap pahlawan secara berlebih-lebihan atau idolisme.
2. Otonomi vs. Perasaan Malu dan Keragu-Raguan
Anak harus didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi dalam melakukan pilihan bebas. Rasa mampu mengendalikan diri akan menimbulkan dalam diri anak rasa memiliki kemauan baik dan bangga yang bersifat menetap. Sebaliknya rasa kehilangan kontrol diri dapat menyebabkan perasaan malu dan ragu-ragu yang bersifat menetap.
Nilai kemauan muncul pada tahap ke dua kehidupan ini. Anak belajar dari dirinya sendiri dan dari orang. Kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima peraturan hukum dan kewajiban. Kemauan adalah kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan bebas, memutuskan, melatih mengendalikan diri dan bertindak yang terus meningkat.
Ritualisasi menyebut ritualisasi tahap ini sifat bijaksana, karena anak mulai menilai dirinya sendiri dan orang lain serta membedakan antara benar dan salah.
Penyimpangan ritualisme pada tahap ini adalah legalisme, yakni pengagungan huruf ketentuan hukum daripada semangatnya, mengutamakan hukuman daripada belas kasih.
3. Inisiatif vs. Kesalahan
Tahap psikososial ketiga ialah tahap inisiatif yaitu suatu masa untuk memperluas penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih seimbang secara fisik maupun kejiwaan.
Tujuan adalah nilai yang menonjol pada tahap perkembangan ini. Kegiatan utama anak dalam tahap ini adalah bermain, dan tujuan tumbuh dari kegiatan bermainnya, eksplorasi, usaha, kegagalannya serta eksperimen dengan alat permainannya.
Masa bermain ini bercirikan ritualisasi dramatik. Anak secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan bermain, memakai pakaian, meniru kepribadian orang dewasa dan berpura-pura menjadi apa saja. Keterasingan batin yang dapat timbul pada masa kanak-kanak ini ialah suatu perasaam bersalah.
Padanan negatif dari ritualisasi dramatik adalah ritualisme impersonasi sepanjang hidup, yaitu melakukan tindakan yang tidak mencerminkan kepribadiannya yang sejati.
4. Kerajinan vs. Inferioritas
Pada tahap ini, anak harus belajar mengontrol imjinasinya yang sangat kaya, dan mulai menempuh pendidikan formal. Bahaya dari tahap ini ialah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil menguasai tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru dan orangtua.
Nilai kompetensi muncul pada tahap kerajinan ini. Rasa kompetensi dicapai dengan menerjunkan diri pada pekerjaan dan penyelesaian tugas, yang pada akhirnya mengembangkan kecakapan kerja.
Usia sekolah merupakan tahap ritualisasi formal, masa anak belajar bekerja secara metodis. Penyimpangan ritualismenya dimasa depan adalah formalisme, berwujud pengulangan, formalitas yang tidak berarti.
5. Identitas vs. Kekacauan Identitas
Selama masa [adolesen], individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui. Inilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada saat sekarang dan ingin menjadi apakah ia di masa yang akan datang.
Daya penggerak batin dalam rangka pembentukan identitas ego dalam aspek-aspeknya yang sadar maupun tak sadar. Pada tahap ini ego memiliki kapasitas untuk memilih dan mengintegrasikan bakat-bakat dan ketrampilan dalam melakukan identifikasi dengan orang yang sependapat, dalam lingkungan sosial, serta menjaga pertahanannya terhadap berbagai ancaman dan kecemasan. Semua ciri yang dipilih oleh ego ini dihimpun dan diintegrasikan oleh ego serta membentuk identitas psikososial seseorang.
Peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dan karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis dilain pihak, maka selama tahap pembentukan identitas seorang remaja, mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan identitas.
Istilah krisis identitas menunjuk pada perlunya mengatasi kegagalan yang bersifat sementara itu untuk selanjutnya membentuk suatu identitas yang stabil atau sebaliknya suatu kekacauan peranan. Kesetiaan adalah pondasi atas dasar mana terbentuk suatu perasaan identitas yang bersifat kontinyu. Ritualisasi yang menyertai tahap adolesen adalah ritualisasi ideologi. Penyimpangan ritualisasinya adalah totalisme.
6. Keintiman vs. Isolasi
Tahap dimana orang dewasa awal siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Agar memiliki arti sosial yang bersifat menetap maka genitalitas membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak menngadakan hubungan seksual, dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Bahaya pada keintiman ini adalah isolasi.Ritualisasi pada tahap ini adalah afiliatif yakni berbagi bersama dalam pekerjaan, persahabatan dan cinta. Penyimpangan ritualismenya adalah elitisme.
7. Generativitas vs. Stagnasi
Ciri tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan, keturunan, produk, ide serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur dan mengalami stagnasi. Nilai pemeliharaan berkembang dalam tahap ini.Ritualisasi dari tahap ini ialah sesuatu yang generasional, yakni ritualisasi peranan orang tua, produksi, pengajaran dengan mana orang dewasa bertindak sebagai penerus nilai-nilai ideal kepada kaum muda. Penyimpangan dari ritualisasi ini adalah autoritisme.

8. Integritas vs. Keputusasaan

Tahap terakhir dalam proses epigenetis perkembangan disebut integritas. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda, produk, ide, orang dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup.Lawan integritas adalah keputusasaan tertentu menghadapi perubahan siklus kehidupan individu, terhadap kondisi sosial dan historis, belum lagi kefanaan hiidup di hadapan kematian.
Kebijaksanaan adalah nilai yang berkembang dari hasil pertemuan antara integritas dan keputusasaan dalam tahap kehidupan yang terakhir ini.Ritualisasi usia lanjut dapat disebut integral, ini tercermin dalam kebijaksanaan segala zaman. Sebagai ritualisme yang padanannya, Erikson mengusulkan sapientisme.

Daftar Pustaka: Erik Erikson, 91, Psychoanalyst Who Reshaped Views of Human Growth, Dies", New York Times, 13 Maret 1994.


Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky
The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut: (1) Masa bayi berusia lahir – 12 bulan; (2) Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun; (3) Masa prasekolah usia 3-6 tahun; (4) Masa kelas B TK usia 4-5/6 tahun
Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang merubah struktur kognitif. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnyadalam bentukpertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.
Piaget selain meneliti tentang proses berpikir di dalam diri seseorang ia juga dikenal dengan konsep bahwa pembangunan struktur berfikir melalui beberapa tahapan. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: (1) Tahap sensori motor (lahir-2 tahun); (2) Tahap praoperasi (usia 2-7 tahun); (3) Tahap operasi konkrit (usia 7-11 tahun); (4) Tahap operasi formal (usia 11-15 tahun). Tahapan-tahapan ini sudah baku dan saling berkaitan. Urutan tahapan Tidak dapat ditukar atau dibalik karena tahap sesudahnya melandasi Terbentuknya tahap sebelumnya. Akan tetapi terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah menurut situasi sesorang. Perbedaaan antara tahap sangat besar. Karena ada perbedaan kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian unsur dari perkembangan sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi ada kesinambungan dari tahap ke tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.
Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan muncul suatu istilah zona Perkembangan Proksimal (ZPD). ZPD diartikan sebagai daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan jarak antara tahap perkembanan aktual anak yaitu ditandai dengan kemampuan mengatasi permasalahan sendiri batas tahap perkembangan potensial dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain yang mampu.Sebagi contoh anak usia 5 tahun belajar menggambar dengan bantuan pengarahan dari Orang tua atau guru bagimana caranya secara bertahap, sedikit demi sedikit bantuan akan berkurang sampai ZPD berubah menjadi tahap perkembangan aktual saat anak dapat menggambar sendiri. Oleh karena itu dalam mengembangkan setiap kemampuan anak diperlukan scaffolding atau bantuan arahan agar anak pada akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen. Dalam mengajar guru perlu menjadi mediator atau fasilitator di mana pendidik berada disana ketika anak-anak membutuhkan bantuan mereka. Mediatoring ini merupakan bagian dari scaffolding. Jadi walaupun anak sebagai pebelajar yang aktif dan ingin tahu hampir segala hal, tetapi dengan bantuan yang tepat untuk belajar lebih banyak perlu terus distimuluasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Vigotsky meyakini bahwa pikiran anak berkembang melalui: (1) Mengambil bagian dalam dialog yang kooperatif dengan lawan yang terampil dalam tugas di luar zone proximal Development; (2) Menggunakan apa yang dikatakan pendidik yang ahli dengan apa Yang dilakukan. Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada perkembangan berfikir dalam diri anak (intrinsik), Vigotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan budaya anak tersebut tinggal. Setiap budaya memberikan pengaruh pada pembentukan keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Budayalah yang mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan.
Daftar Pustaka: Melisa Maulina.2012.Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. (mmunchanforever.blogspot.com/.../teori-perkembangan-erik-erikson-normal.html).diakses tanggal 05 Desember 2015)

Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling pada Sekolah TK
A.                Prinsip – prinsip  dasar bimbingan dan konseling anak usia dini

Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini tidak mengunakan waktu dan ruang tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara bersama-sama dengan proses pembelajaran. Nuansa bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia anak adalah dunia bermain.
Prinsip dasar bimbingan dan konseling antara lain yaitu:
1.      Bimbingan merupakan bagian penting dari proses pendidikan
2.      Bimbingan diberikan kepada semua anak dan bukan hanya untuk anak yang menghadapi masalah
3.      Bimbingan merupakan proses yang menyatu dalam semua kegiatan pendidikan
4.      Bimbingan harus berpusat pada anak yang dibimbing
5.      Kegiatan bimbingan ,mencakup seluruh kemampuan perkembangan anak yang meliputi kemampuan fisik-motorik, kecerdasan, social maupun emosional
6.      Bimbingan harus dimulai dengan mengenal (mengidentifikasi) kebutuhan-kebutuhanyang dirasakan anak
7.      Bimbingan harus fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan anak
8.      Dalam menyampaikan pemasalahan anak kepada orang tua hendaknya menciptakan situasi aman dan menyenangkan, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi yang wajar dan terhindar dari kesalah pahaman
9.      Dalam melaksanakan kegiatan bimbingan hendaknya orang tua diikutsertakan agar mereka dapat mengikuti perkembangan dan memberikan bantuan kepada anaknya dirumah
10.  Bimbingan dilakukan seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki guru atau pendamping sebagai pelaksana bimbingan, bilamana masalah yang terjadi perlu ditindak lanjuti, maka guru pembimbing harus mengonsultasikan kepada kepala sekolah dan tenaga ahli.
11.  Bimbingan harus diberikan secara  berkelanjutan



B.    Ruang lingkup bimbingan dan konseling untuk Anak Usia Dini

a. Ruang lingkup dasar
 
1.  Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan secara baik. Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.

2.  Bimbingan Belajar
Merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para anak dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta mencapai tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.

3.    Bimbingan karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.

B. Ruang lingkup khusus
 
Secara khusus ruang lingkup bimbingan dan konseling itu adalah sebagai bantuan pada orang tua yamg antara lain
:
·         Lebih mengenal dirinya, kemampuannya, sifatnya, kebiasaannya, dan kesenangannya,
·         Mengembangkan potensi yang dimilikinya,
·         Mengatasi kesulitan yang dihadapinya,
·         Menyiapkan perkembangan mental dan social untuk masuk kelembaga pendidikan selanjutnya
B.         Pendekatan Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-kanak
Pelaksanaan layanan bimbingan di taman kanak-kanak menggunakan layanan terpadu, artinya layanan bimbingan dilaksanakan secara terpadu dengan seluruh kegiatan pendidikan di taman kanak-kanak. Adapun pelaksanaannya dapat dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut:
1.   Pendekatan instruksional dan interaktif  yaitu terpadu dengan pelaksanaan-pelaksanaan Program Kegiatan Belajar (PKB).
Misalnya:
·         menciptakan suasana dan kegiatan kelas yang menyenangkan dan bervariasi
·         membiasakan disiplin
·         mengadakan kegiatan individual, kelompok dan klasikal.
2.    Pendekatan dukungan sistem
yaitu dengan menciptakan suasana taman kanak-kanak dan lingkungannya yang menunjang perkembangan anak.
Misalnya:
·      Membuat permainan yang dapat menunjang bakat anak
·      Melatih anak untuk berani mengembangkan bakatnya

3.    Pendekatan pengembangan pribadi
yaitu dengan memberikan kesempatankepada anak untuk berkembang sesuai dengan kondisi dan kemampuan dirinya.Pendekatan ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas-tugas individual,penempatan anak dalam kelompok berdasarkan minat dan kemampuan anak
misalnya:
·      Memberikan tugas yang berbeda pada setiap anak
·      Memberikan tugas seperti apa yang di sukai oleh masing- masing anak

Daftar Pustaka: Wan Chalidaziah.2013.Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling pada Sekolah TK (wanchalidaziah.blogspot.com/.../konsep-dasar-bimbingan-dan-konseling.html) diakses tanggal 04 Maret 2013Cached

Tujuan Bimbingan Konseling

1.  Tujuan Umum
Tujuan umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).
2.   Tujuan khusus
Secara khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi dan sosial, belajar dan karier. Bimbingan Pribadi dan Sosial adalah bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.Bimbingan Belajar tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku. Bimbingan karir adalah bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.
Bimbingan pribadi – sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi – sosial dalam mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan bertanggung-jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.

3.   Tujuan Bimbingan Konseling bagi anak usia dini
Bimbingan konseling  juga membantu tercapainya segala aspek-aspek  pertumbuhan dan perkembangan  bagi anak. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika proses pelaksanaanya diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan anak yang maksimal. Dari semua itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak dalam membantu mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu tercapainya segala aspek perkembangan peserta didik di  pendidikan anak usia dini atau di taman kanak-kanak.
Lembaga ini bertanggung jawab  terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan mental spiritual. Agar apa yang dibebankan kepada guru pendidikan anak usia dini atau taman kanak-kanak dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan maka diperlukan bimbingan dan konseling dilembaga tersebut.

Daftar Pustaka: Novita Astarini.2013.Bimbingan Konseling Anak Usia Dini  
       (
astavitano.blogspot.com/.../bimbingan-konseling-anak usia dini.html) diakses tanggal
      26 Oktober 2013