Teori Psikososial tentang Kepribadian
Perkembangan
berlangsung melalui delapan tahap menurut Erikson. Tahap yang berurutan itu
tidak ditetapkan menurut suatu jadwal kronologis yang ketat. Erikson
berpendapat bahwa setiap anak memiliki jadwal waktunya sendiri.
Erikson membagi tahap-tahap itu berdasarkan kualitas dasar ego pada
masing-masing tahap yaitu:
1. Kepercayaan Dasar vs.
Kecurigaan Dasar
Kepercayaan
dasar yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik oral dan ditunjukkan
oleh bayi lewat kapasitasnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan
dengan nyaman dan membuang kotoran dengan santai. Kebiasaan itu berlangsung
terus dalam kehidupan bayi dan merupakan dasar paling awal bagi berkembangnya
suatu perasaan identitas psikososial. Melalui pengalaman dengan orang dewasa,
bayi belajar menggantungkan diri dan percaya pada mereka, tetapi mungkin yang
lebih penting, ia mempercayai dirinya sendiri. Kepastias semacam itu harus
mengungguli lawan negatif dari kepercayaan dasar yakni, kecurigaan dasar.
Pengharapan
merupakan kebajikan paling awal dan paling esensial yang melekat dalam hidup.
Fondasi pengharapan pertama terletak pada hubungan dengan orang tua yang
memberikan pengalaman-pengalaman seperti ketenangan, makanan dan kehangatan.
Pada
saat yang sama, ia mengembangkan kemampuan untuk membuang pengharapan yang
dikecewakan dan menemukan pengharapan dalam tujuan dan kemungkinan di masa
mendatang.
Menurut
Erikson, pengharapan adalah keyakinan yang bersifat menetap akan kemungkinan
dicapainya hasrat-hasrat kuat.
Tahap
pertama kehidupan ini merupakan tahap ritualisasi numinous yaitu, perasaan bayi
akan kehadiran ibu, dalam hal ini pandangannya, pegangannya, sentuhannya,
teteknya atau “pengakuan atas dirinya”. Bentuk ritual numinous yang menyimpang
dan terungkap dalam kehidupan dewasa berupa pemujaan terhadap pahlawan secara
berlebih-lebihan atau idolisme.
2. Otonomi vs. Perasaan Malu dan Keragu-Raguan
Anak
harus didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi dalam
melakukan pilihan bebas. Rasa mampu mengendalikan diri akan menimbulkan dalam
diri anak rasa memiliki kemauan baik dan bangga yang bersifat menetap.
Sebaliknya rasa kehilangan kontrol diri dapat menyebabkan perasaan malu dan
ragu-ragu yang bersifat menetap.
Nilai
kemauan muncul pada tahap ke dua kehidupan ini. Anak belajar dari dirinya
sendiri dan dari orang. Kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima
peraturan hukum dan kewajiban. Kemauan adalah kemampuan untuk membuat
pilihan-pilihan bebas, memutuskan, melatih mengendalikan diri dan bertindak
yang terus meningkat.
Ritualisasi
menyebut ritualisasi tahap ini sifat bijaksana, karena anak mulai menilai
dirinya sendiri dan orang lain serta membedakan antara benar dan salah.
Penyimpangan
ritualisme pada tahap ini adalah legalisme, yakni pengagungan huruf ketentuan
hukum daripada semangatnya, mengutamakan hukuman daripada belas kasih.
3. Inisiatif vs. Kesalahan
Tahap
psikososial ketiga ialah tahap inisiatif yaitu suatu masa untuk memperluas
penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih
maju dan lebih seimbang secara fisik maupun kejiwaan.
Tujuan
adalah nilai yang menonjol pada tahap perkembangan ini. Kegiatan utama anak
dalam tahap ini adalah bermain, dan tujuan tumbuh dari kegiatan bermainnya,
eksplorasi, usaha, kegagalannya serta eksperimen dengan alat permainannya.
Masa
bermain ini bercirikan ritualisasi dramatik. Anak secara aktif berpartisipasi
dalam kegiatan bermain, memakai pakaian, meniru kepribadian orang dewasa dan
berpura-pura menjadi apa saja. Keterasingan batin yang dapat timbul pada masa
kanak-kanak ini ialah suatu perasaam bersalah.
Padanan
negatif dari ritualisasi dramatik adalah ritualisme impersonasi sepanjang
hidup, yaitu melakukan tindakan yang tidak mencerminkan kepribadiannya yang
sejati.
4. Kerajinan vs. Inferioritas
Pada
tahap ini, anak harus belajar mengontrol imjinasinya yang sangat kaya, dan
mulai menempuh pendidikan formal. Bahaya dari tahap ini ialah anak bisa
mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil menguasai
tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru dan orangtua.
Nilai
kompetensi muncul pada tahap kerajinan ini. Rasa kompetensi dicapai dengan
menerjunkan diri pada pekerjaan dan penyelesaian tugas, yang pada akhirnya
mengembangkan kecakapan kerja.
Usia
sekolah merupakan tahap ritualisasi formal, masa anak belajar bekerja secara
metodis. Penyimpangan ritualismenya dimasa depan adalah formalisme, berwujud
pengulangan, formalitas yang tidak berarti.
5. Identitas vs. Kekacauan
Identitas
Selama
masa [adolesen], individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya
sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu
peranan yang berarti di tengah masyarakat, entah peranan ini bersifat
menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui. Inilah masa dalam kehidupan
ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada saat sekarang dan ingin menjadi
apakah ia di masa yang akan datang.
Daya
penggerak batin dalam rangka pembentukan identitas ego dalam aspek-aspeknya
yang sadar maupun tak sadar. Pada tahap ini ego memiliki kapasitas untuk
memilih dan mengintegrasikan bakat-bakat dan ketrampilan dalam melakukan
identifikasi dengan orang yang sependapat, dalam lingkungan sosial, serta
menjaga pertahanannya terhadap berbagai ancaman dan kecemasan. Semua ciri yang
dipilih oleh ego ini dihimpun dan diintegrasikan oleh ego serta membentuk
identitas psikososial seseorang.
Peralihan
yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dan karena
kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis dilain pihak, maka selama tahap
pembentukan identitas seorang remaja, mungkin merasakan penderitaan paling
dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan
identitas.
Istilah
krisis identitas menunjuk pada perlunya mengatasi kegagalan yang bersifat
sementara itu untuk selanjutnya membentuk suatu identitas yang stabil atau
sebaliknya suatu kekacauan peranan. Kesetiaan adalah pondasi atas dasar mana
terbentuk suatu perasaan identitas yang bersifat kontinyu. Ritualisasi yang
menyertai tahap adolesen adalah ritualisasi ideologi. Penyimpangan
ritualisasinya adalah totalisme.
6. Keintiman vs. Isolasi
Tahap
dimana orang dewasa awal siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang
lain. Agar memiliki arti sosial yang bersifat menetap maka genitalitas
membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak menngadakan hubungan seksual,
dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan.
Bahaya pada keintiman ini adalah isolasi.Ritualisasi pada tahap ini adalah
afiliatif yakni berbagi bersama dalam pekerjaan, persahabatan dan cinta.
Penyimpangan ritualismenya adalah elitisme.
7. Generativitas vs. Stagnasi
Ciri
tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan, keturunan, produk, ide
serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang.
Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur
dan mengalami stagnasi. Nilai pemeliharaan berkembang dalam tahap
ini.Ritualisasi dari tahap ini ialah sesuatu yang generasional, yakni
ritualisasi peranan orang tua, produksi, pengajaran dengan mana orang dewasa
bertindak sebagai penerus nilai-nilai ideal kepada kaum muda. Penyimpangan dari
ritualisasi ini adalah autoritisme.
8. Integritas vs. Keputusasaan
Tahap
terakhir dalam proses epigenetis perkembangan disebut integritas. Integritas
paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah
memelihara benda, produk, ide, orang dan setelah berhasil menyesuaikan diri
dengan keberhasilan dan kegagalan dalam hidup.Lawan integritas adalah
keputusasaan tertentu menghadapi perubahan siklus kehidupan individu, terhadap
kondisi sosial dan historis, belum lagi kefanaan hiidup di hadapan kematian.
Kebijaksanaan
adalah nilai yang berkembang dari hasil pertemuan antara integritas dan
keputusasaan dalam tahap kehidupan yang terakhir ini.Ritualisasi usia lanjut
dapat disebut integral, ini tercermin dalam kebijaksanaan segala zaman. Sebagai
ritualisme yang padanannya, Erikson mengusulkan sapientisme.
Daftar Pustaka: Erik Erikson, 91, Psychoanalyst Who Reshaped Views of Human Growth, Dies", New York Times, 13 Maret 1994.
Perkembangan
Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky
The National
for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak
usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk
kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar.
Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang
usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan
anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi
menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak.
NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu
program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai
dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia
berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di
Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang
terbagi ke dalam rentang tahapan berikut: (1) Masa bayi berusia lahir – 12
bulan; (2) Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun; (3) Masa prasekolah usia
3-6 tahun; (4) Masa kelas B TK usia 4-5/6 tahun
Teori
perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi
membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh
lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme
dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan
lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga
proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi
terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan
menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita
(asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja
baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam
struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan
yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan
intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda
dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu
proses yang merubah struktur kognitif. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut
dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru
memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak,
untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnyadalam
bentukpertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman
yang lebih kompleks.
Piaget
selain meneliti tentang proses berpikir di dalam diri seseorang ia juga dikenal
dengan konsep bahwa pembangunan struktur berfikir melalui beberapa tahapan.
Piaget membagi tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: (1) Tahap
sensori motor (lahir-2 tahun); (2) Tahap praoperasi (usia 2-7 tahun); (3) Tahap
operasi konkrit (usia 7-11 tahun); (4) Tahap operasi formal (usia 11-15 tahun).
Tahapan-tahapan ini sudah baku dan saling berkaitan. Urutan tahapan Tidak dapat
ditukar atau dibalik karena tahap sesudahnya melandasi Terbentuknya tahap
sebelumnya. Akan tetapi terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah menurut
situasi sesorang. Perbedaaan antara tahap sangat besar. Karena ada perbedaan
kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian unsur dari perkembangan
sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi ada kesinambungan dari tahap ke tahap,
walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.
Vigotsky
memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak.
Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk
mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan
muncul suatu istilah zona Perkembangan Proksimal (ZPD). ZPD diartikan sebagai
daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan
anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini
merupakan jarak antara tahap perkembanan aktual anak yaitu ditandai dengan
kemampuan mengatasi permasalahan sendiri batas tahap perkembangan potensial
dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain yang mampu.Sebagi
contoh anak usia 5 tahun belajar menggambar dengan bantuan pengarahan dari
Orang tua atau guru bagimana caranya secara bertahap, sedikit demi sedikit
bantuan akan berkurang sampai ZPD berubah menjadi tahap perkembangan aktual
saat anak dapat menggambar sendiri. Oleh karena itu dalam mengembangkan setiap
kemampuan anak diperlukan scaffolding atau bantuan arahan agar anak pada
akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen. Dalam mengajar guru
perlu menjadi mediator atau fasilitator di mana pendidik berada disana ketika
anak-anak membutuhkan bantuan mereka. Mediatoring ini merupakan bagian dari
scaffolding. Jadi walaupun anak sebagai pebelajar yang aktif dan ingin tahu
hampir segala hal, tetapi dengan bantuan yang tepat untuk belajar lebih banyak
perlu terus distimuluasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Vigotsky
meyakini bahwa pikiran anak berkembang melalui: (1) Mengambil bagian dalam
dialog yang kooperatif dengan lawan yang terampil dalam tugas di luar zone
proximal Development; (2) Menggunakan apa yang dikatakan pendidik yang ahli
dengan apa Yang dilakukan. Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada
perkembangan berfikir dalam diri anak (intrinsik), Vigotsky menekankan bahwa
perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan budaya
anak tersebut tinggal. Setiap budaya memberikan pengaruh pada pembentukan
keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai
alat dalam beradaptasi secara intelektual. Budayalah yang mengajari anak untuk
berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan.
Daftar Pustaka: Melisa
Maulina.2012.Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. (mmunchanforever.blogspot.com/.../teori-perkembangan-erik-erikson-normal.html).diakses
tanggal 05 Desember 2015)
Konsep Dasar
Bimbingan dan Konseling pada Sekolah TK
A.
Prinsip – prinsip dasar
bimbingan dan konseling anak usia dini
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini tidak mengunakan waktu dan ruang tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara bersama-sama dengan proses pembelajaran. Nuansa bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia anak adalah dunia bermain.
Prinsip dasar bimbingan dan konseling antara lain yaitu:
1.
Bimbingan merupakan bagian penting
dari proses pendidikan
2.
Bimbingan diberikan kepada semua
anak dan bukan hanya untuk anak yang menghadapi masalah
3.
Bimbingan merupakan proses yang
menyatu dalam semua kegiatan pendidikan
4.
Bimbingan harus berpusat pada anak
yang dibimbing
5.
Kegiatan bimbingan ,mencakup seluruh
kemampuan perkembangan anak yang meliputi kemampuan fisik-motorik, kecerdasan,
social maupun emosional
6.
Bimbingan harus dimulai dengan
mengenal (mengidentifikasi) kebutuhan-kebutuhanyang dirasakan anak
7.
Bimbingan harus fleksibel dan sesuai
dengan kebutuhan serta perkembangan anak
8.
Dalam menyampaikan pemasalahan anak
kepada orang tua hendaknya menciptakan situasi aman dan menyenangkan, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi yang
wajar dan terhindar dari kesalah pahaman
9.
Dalam melaksanakan kegiatan
bimbingan hendaknya orang tua diikutsertakan agar mereka dapat mengikuti perkembangan dan memberikan bantuan kepada anaknya
dirumah
10.
Bimbingan dilakukan seoptimal
mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki guru atau pendamping sebagai pelaksana bimbingan, bilamana masalah yang terjadi
perlu ditindak lanjuti, maka guru
pembimbing harus mengonsultasikan kepada kepala sekolah dan tenaga ahli.
11.
Bimbingan harus diberikan
secara berkelanjutan
B.
Ruang lingkup bimbingan dan konseling untuk Anak Usia Dini
a. Ruang lingkup dasar
1. Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dimaksudkan untuk
mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan
pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan secara baik. Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.
2. Bimbingan Belajar
Merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para
anak dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta mencapai tujuan dan
tugas pengembangan pendidikan
melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan
dasar dan pembentukan perilaku.
3. Bimbingan karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan
dan pemecahan masalah-masalah
karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan,
perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan
masalah-masalah karir yang
dihadapi secara sederhana.
B. Ruang lingkup khusus
Secara khusus ruang lingkup bimbingan dan konseling itu adalah sebagai bantuan pada orang tua yamg antara lain:
·
Lebih mengenal dirinya,
kemampuannya, sifatnya, kebiasaannya, dan kesenangannya,
·
Mengembangkan potensi yang
dimilikinya,
·
Mengatasi kesulitan yang
dihadapinya,
·
Menyiapkan perkembangan mental dan
social untuk masuk kelembaga pendidikan selanjutnya
B.
Pendekatan Bimbingan dan Konseling
di Taman Kanak-kanak
Pelaksanaan
layanan bimbingan di taman kanak-kanak menggunakan layanan terpadu, artinya
layanan bimbingan dilaksanakan secara terpadu dengan seluruh kegiatan
pendidikan di taman kanak-kanak. Adapun pelaksanaannya dapat dilakukan dengan
pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan
instruksional dan interaktif yaitu terpadu dengan pelaksanaan-pelaksanaan Program Kegiatan Belajar (PKB).
Misalnya:
·
menciptakan suasana dan kegiatan
kelas yang menyenangkan dan bervariasi
·
membiasakan disiplin
·
mengadakan kegiatan individual, kelompok
dan klasikal.
2.
Pendekatan dukungan sistem
yaitu dengan menciptakan suasana taman kanak-kanak dan
lingkungannya yang menunjang perkembangan anak.
Misalnya:
·
Membuat permainan yang dapat
menunjang bakat anak
·
Melatih anak untuk berani mengembangkan
bakatnya
3. Pendekatan pengembangan pribadi
yaitu dengan memberikan kesempatankepada anak untuk
berkembang sesuai dengan kondisi dan kemampuan dirinya.Pendekatan ini dapat
dilakukan dengan memberikan tugas-tugas individual,penempatan anak dalam
kelompok berdasarkan minat dan kemampuan anak
misalnya:
·
Memberikan tugas yang berbeda pada
setiap anak
·
Memberikan tugas seperti apa yang di
sukai oleh masing- masing anak
Daftar Pustaka:
Wan Chalidaziah.2013.Konsep Dasar
Bimbingan dan Konseling pada Sekolah TK (wanchalidaziah.blogspot.com/.../konsep-dasar-bimbingan-dan-konseling.html) diakses
tanggal 04 Maret 2013
Tujuan
Bimbingan Konseling
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum
dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan
sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)
Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang
cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).
2.
Tujuan khusus
Secara
khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar
dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi dan sosial,
belajar dan karier. Bimbingan Pribadi dan Sosial adalah bimbingan ini dapat
membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.Bimbingan Belajar
tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil
belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku. Bimbingan
karir adalah bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan
pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan
tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi
lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan
pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.
Bimbingan
pribadi – sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan
pribadi – sosial dalam mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan
bertanggung-jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan
tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan
pribadi pekerja yang produktif.
3.
Tujuan Bimbingan Konseling bagi anak usia dini
Bimbingan
konseling juga membantu tercapainya segala aspek-aspek pertumbuhan
dan perkembangan bagi anak. Baik aspek akademik, bakat dan minat,
emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru,
menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika proses
pelaksanaanya diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek-aspek pertumbuhan
dan perkembangan anak yang maksimal. Dari semua itu disinilah perlunya guru
Bimbingan dan Konseling (BK) di pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak
dalam membantu mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu
tercapainya segala aspek perkembangan peserta didik di pendidikan anak
usia dini atau di taman kanak-kanak.
Lembaga ini
bertanggung jawab terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan
mental spiritual. Agar apa yang dibebankan kepada guru pendidikan anak usia
dini atau taman kanak-kanak dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan maka
diperlukan bimbingan dan konseling dilembaga tersebut.
Daftar
Pustaka: Novita Astarini.2013.Bimbingan Konseling Anak Usia Dini
(astavitano.blogspot.com/.../bimbingan-konseling-anak usia dini.html) diakses tanggal
26 Oktober 2013
(astavitano.blogspot.com/.../bimbingan-konseling-anak usia dini.html) diakses tanggal
26 Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar