Minggu, 22 Maret 2015

Kajian terhadap permasalahan dan kebutuhan informasi siswa sekolah



BAB I
PENDAHULUAN

Masyarakat informasi memiliki kebutuhan utama untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan sebagai penunjang berbagai aktivitas keseharian maupun tuntutan-tuntutan yang lain. Kebutuhan akan informasi dirasakan akan terus bertambah bagi seseorang setiap kali ia selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Dan rasa ingin tahu timbul ketika seseorang ingin menambah daftar panjang khasanah pengetahuannya. Menurut Wersig, kebutuhan informasi didorong oleh a problematic situation dimana seseorang merasa harus memperoleh masukan dari sumber-sumber di luar dirinya. Sedang Belkin, menamakan ini sebagai anomalous state of knowledge, seseorang merasa bahwa tingkat pengetahuannya tidak cukup untuk menghadapi situasi tertentu pada saat itu (Pendit, 2003: 126).
Seorang pendidik bukan hanya sekedar menyampaikan materi didalam kelas sesuai dengan kurikulum yang berlaku, namun pendidik mengembang tugas terhadap perkembangan peserta didik, baik perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak semua peserta didik mampu berkembang sesuai dengan fase perkembangannya dengan baik tanpa adanya masalah yang mampu mempengaruhi perkembangannya.
Remaja menghabiskan sepertiga atau lebih waktu terjaga mereka dengan beberapa bentuk media massa, baik sebagai fokus utama atau sebagai latar belakang melakukankegiatan yang lain. Perkiraan lainnya remaja menonton TV berkisar antara 2 sampai 4 jam per hari, dengan variasi yang cukup besar sekitar rata-rata tersebut: Beberapa remaja sedikit atau sama sekali tidak menonton TV; yang lain menonton selama 8 jam sehari.
Hal ini juga sangat mungkin terjadi pada kebutuhan informasi remaja yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini disebabkan secara psikologis, usia remaja berada dalam fase pertengahan diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pencarian jati diri dan tingginya kebutuhan diri untuk diakui menjadi kompleksitas tersendiri. Ditambahkan Jean Piaget bahwa perkembangan kognitif remaja dikatakan sebagaiperiode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (Setiono, www.epsikologi.com).
Menurut Houston & Alvarez, menonton televisi seringkali memuncak di masa akhir kanak-kanak dan mulai menurun pada beberapa titik di awal masa remaja akibat banyaknya media yang bersaing dan tuntutan sekolah serta kegiatan sosial (Santrock, 2003: 316). Remaja juga lebih banyak menggunakan media cetak dibandingkan anak-anak.Membaca koran seringkali dimulai pada usia 11 sampai 12 tahun, dan terus meningkat hingga60 sampai 80 persen remaja akhir membaca setidaknya beberapa koran. Dengan kecenderungan yang sama, membaca buku dan majalah terus meningkat secara bertahapselama masa remaja.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, orang memerlukan informasi. Berdasarkan beberapa pendapat tentang kebutuhan informasi, maka kondisi yang menyebabkan munculnya kebutuhan informasi adalah pada saat seseorang menemui suatu masalah yang belum dapat dicari solusinya secara pribadi, sehingga ia memerlukan informasi dari sumber-sumber di luar dirinya. Menetapkan kebutuhan informasi bagi suatu perpustakaan merupakan fenomena yang rumit, karena perpustakaan melayani komunitas yang terdiri atas individu-individu pemakai yang memiliki kebutuhan yang beragam. Bahkan pemakai sendiri mengalami kesulitan mengungkapkan dan mendefinisikan informasi mereka. Oleh karena itu prosedur pengumpulan data yang komprehensif perlu dilakukan untuk mengetahui kebutuhan informasi oleh suatu kelompok pemakai. Jika dilakukan secara tepat, kajian mengenai kebutuhan pemakai akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:pengembangan apa yang diperlukan agar jasa-jasa yang telah ditawarkan dimanfaatkan secaraefektif, apa yang harus dilakukan agar jasa serta sumber informasi diketahui oleh pemakai, jenis program apakah yang dapat ditawarkan agar jasa yang ada dimanfaatkan (Chaundry,1993). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi adalah pernyataan seseorang atas adanya ketidakcocokan antara tingkat kepastiannya dengan obyek lingkungan yang sedang dihadapinya. Atau dengan kata lain bahwa kebutuhan informasi ini muncul pada saat seseorang mulai menganggap bahwa keadaan pengetahuan yang ia miliki saat itu kurang dari yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan suatu masalah. Kebutuhan informasi ini menurut Krikelas nantinya akan mendorong adanya perilaku penemuan informasi (information seeking behavior). Proses pencarian informasi akan berakhir apabila kebutuhan yang dirasakan telah terpenuhi (Hayden, 2001: 6).





    BAB II
                          PEMBAHASAN

A.     Kebutuhan Informasi
Di era globalisasi, informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan. Istilah “kebutuhan informasi” didefinisikan oleh Krikelas dengan “pengakuan mengenai adanya ketidakpastian” (1983: 8). Kata “informasi” dikaitkan dengan kata kebutuhan” karena ini menegaskan sebuah kebutuhan dasar yang mirip dengan kebutuhan dasar manusia lainnya, yang oleh para psikolog dibedakan dalam tiga kategori, yaitu kebutuhan fisiologis, afektif, dan kognitif (Rohde, 1986: 53). Menurut Wilson, kebutuhan informasi adalah sebuah pengalaman subyektif yang hanya terjadi pada pikiran orang yang sedang dalam kondisi membutuhkan dan tidak bisa secara langsung diakses oleh para pengamat (1997: 552).  Evans membedakan antara keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs) (1992: 17). Keinginan adalah sesuatu yang ingin dibayar oleh seseorang, baik dengan mencurahkan waktu, usaha, maupun uang. Permintaan adalah satu hal yang politis karena orang mau bergerak untuk mendapatkannya. Kebutuhan adalah masalah yang memerlukan solusi. Kebutuhan informasi menurut Bouzza didefinisikan sebagai pengakuan seseorang atas adanya ketidakpastian dalam dirinya (Krikelas, 1983: 11). Rasa ketidakpastian ini mendorong seseorang untuk mencari informasi. Banyaknya informasi yang beredar saat ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang dikenal sebagai masyarakat informasi, dimana pada masyarakat ini standar hidup, bentuk pekerjaan dan sistem pendidikan dipengaruhi oleh informasi (Martin, 1988). Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan
Kebutuhan Informasi di era globalisasi, informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan. Istilah “kebutuhan informasi” didefinisikan oleh Krikelas dengan “pengakuan mengenai adanya ketidakpastian” (1983: 8). Kata “informasi” dikaitkan dengan kata“kebutuhan” karena ini menegaskan sebuah kebutuhan dasar yang mirip dengan kebutuhan dasar manusia lainnya, yang oleh para psikolog dibedakan dalam tiga kategori, yaitu kebutuhan fisiologis, afektif, dan kognitif (Rohde, 1986: 53). Menurut Wilson, kebutuhan informasi adalah sebuah pengalaman subyektif yang hanya terjadi pada pikiran orang yang sedang dalam kondisi membutuhkan dan tidak bisa secara langsung diakses oleh para pengamat (1997: 552).
 Evans membedakan antara keinginan (wants), permintaan (demands), dan kebutuhan (needs) (1992: 17). Keinginan adalah sesuatu yang ingin dibayar oleh seseorang, baik dengan mencurahkan waktu, usaha, maupun uang. Permintaan adalah satu hal yang politis karena orang mau bergerak untuk mendapatkannya. Kebutuhan adalah masalah yang memerlukan solusi.
Kebutuhan informasi menurut Bouzza didefinisikan sebagai pengakuan seseorang atas adanya ketidakpastian dalam dirinya (Krikelas, 1983: 11). Rasa ketidakpastian ini mendorong seseorang untuk mencari informasi. Banyaknya informasi yang beredar saat ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, yang dikenal sebagai masyarakat informasi, dimana pada masyarakat ini standar hidup, bentuk pekerjaan dan sistem pendidikan dipengaruhi oleh informasi (Martin, 1988). Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan.



B.  Sumber  Informasi
Menurut Ellis menyatakan bahwa ada suatu proses yang dilalui seseorang untuk mengikutiperkembangan informasi yang mereka butuhkan dengan menjaga perkembangan informasi dalam suatu bidang dengan secara teratur, yang dilakukan dengan mencari sumber-sumber tertentu (misalnya jurnal, surat kabar, konferensi, majalah, buku, dan katalog) (Meho, 2003).
Dalam hal ini dikenal dengan istilah sumber informasi. Menurut Suwanto, sumber informasi merupakan sarana penyimpanan informasi (1997). Informasi dapat tersimpan dalam dokumen dan non-dokumen. Sumber informasi yang berupa dokumen dapat berbentuk buku, majalah,laporan penelitian, jurnal, sedangkan sumber informasi non-dokumen adalah manusia, yakni teman, pustakawan, pakar, atau spesialis informasi. Suatu sumber informasi menurut Murtonen adalah pembawa informasi yang dipercaya dapat memberikan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan informasi (Byström,1999). Brown secara khusus membagi sumber informasi ke dalam tiga tipe yaitu dirinya sendiri, orang lain, dan sumber lain yang bukan manusia (Bystrom, 1999). Dikarenakan dalam mengerjakan tugas tertentu seseorang tidak bisa mendapatkan informasi dari dirinya sendiri, maka mereka berusaha untuk mencari sumber informasi secara interpersonal yaitu melalui bertanya dengan teman, ahli bidang tertentu, dan orang lain. Sedangkan buku, surat kabar, memo, selebaran adalah contoh dari impersonal sources (sumber informasi yang bukan orang).



  
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah Kebutuhan akan informasi dirasakan akan terus bertambah bagi seseorang setiap kali ia selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Dan rasa ingin tahu timbul ketika seseorang ingin menambah daftar panjang khasanah pengetahuannya.
Satu hal yang menonjol pada masyarakat informasi ini adalah adanya kesadaran tentang pentingnya informasi dalam kehidupan sehari-hari, dan kemampuan untuk memperoleh, mengevaluasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan. Munculnya kebutuhan informasi adalah pada saat seseorang menemui suatu masalah yang belum dapat dicari solusinya secara pribadi, sehingga ia memerlukan informasi dari sumber-sumber di luar dirinya.






            BAB IV
             DAFTAR PUSTAKA

Bystrom, Katriina, 1999, Task Complexity, Information Types And Information
          Sources:Examination of Relationships, Tampere: Faculty of Social Sciences
          of the University of Tampere.
Eeva-Liisa, E., 1998, University student’s information seeking behaviour in a
          changing learning environment
, diakses tanggal 1 April 2007, tersedia di
         
www.shef.ac.uk/infres/isic/eeskola.html
Krikelas, James, 1983, Information-Seeking Behaviour: Patterns and Concepts.
          Drexel Lib.Quart., 19(2) Spring.
Meho, L. I. & Tibbo, H. R., 2003, Modelling The Information-Seeking Behaviour
          of Social Scientist: Ellis’s Revisited, Journal of The American Society for
          Information Science and Technology, 54(6) 570-587, diakses tanggal 1 Juli
          2007, tersedia pada http://dlist.sir.arizona.edu/1641/01/meho-tibbo.pdf
Pendit, Putu Laxman, 2003, Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi : Suatu   
          Pengantar
Diskusi Epistemologi dan Metodologi, Jakarta : JIP-FSUI.
Setiono, Lilly H., Beberapa Permasalahan Remaja, diakses tanggal 23 Januari
         2009,tersedia di www.e-psikologi.com
Wilson, T.D., 1997, Information Behaviour: an interdisciplinary perspective,
              Information Processing & Management 33 (40), diakses tanggal 16
              Maret 2008, tersedia di http://informationr.net/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar